Seminar Nasional | UKMF Sabit

sabit 
Khusus Dies Natalis ketiga tahun ini, UKM-F Teater Sabit mengundang Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta itu. Dengan tema seminar “Melihat kembali Madura dalam Mata rantai Teater dan Sastra”. Sejumlah aktivis kesenian hadir memenuhi ruang kursi peserta.

Tampak penyair Timur Budi Raja duduk dalam ruangan. Seminar bergaya diskusi santai itu juga dihadiri beberapa dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, UTM. Tak luput antusiasme mahasiswa baik dari fakultas ilmu pendidikan maupun fakultas lain. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta seminar yang aktif bertanya, salah satunya Safif.

“Bagaimana jika saya membentuk kelompok pertanian di desa, sembari berdiskusi dan membaca. Mungkin kalau bisa, juga menciptakan suatu pertunjukkan kesenian?” Tanya pendiri UKM-F Teater Sabit itu.

Antusiasme tersebut langsung dijawab oleh Afrizal Malna, bahwa memadukan komunitas pertanian sekaligus komunitas seni sangat dimungkinkan. Lebih lanjut, peraih khatulistiwa award 2013 untuk buku puisi “Museum Penghancur Dokumen” itu berujar, sains dan seni pun harus dipadukan. Hasil riset akademisi bisa dipentaskan dalam pertunjukkan teater.

Mahasiswa semakin antusias kala moderator, Ahmad Jamiul Amil, M.Pd., mempersilakan peserta untuk bertanya. Diskusi dialogis pun terjadi kala Afrizal Malna memaparkan konsep “dinding” yang dijelaskannya guna menelusuri jejak teater di Madura.

Penulis : UKMF PENA 


KABINET SATU HATI
"MENGABDI SEPENUH HATI"